Suku Asmat berdiam di Kabupaten Asmat, bagian selatan Provinsi Papua. Suku Asmat dikenal dunia sebagai ahli pengrajin dan pemahat, dengan seni pahatan dan ukir-ukiran kayunya yang khas dan mendunia.

Seni Pahat ditekuni suku Asmat secara turun temurun karena digunakan sebagai pelengkap upacara adat, yang secara tradisional sangat menekankan pada pemujaan terhadap para leluhurnya. Suku Asmat telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai situs wisata dunia. Itulah sebabnya Festival Budaya Asmat rutin dilaksanakan sejak tahun 1981, ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan pemilihan abang none Asmat. Salah satu tujuan diadakannya festival ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.

Makanan pokok orang asmat adalah sagu, karena banyak tersebar di hutan daerah ini. Ketergantungan suku asmat pada hutan terlihat dari kehidupan sehari-harinya yang memang menggunakan bahan-bahan dari hutan, seperti sagu, kayu besi untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat. Sebenarnya, hutan yang ada tidak sekedar menghasilkan kayu semata, tetapi juga menghasilkan hasil hutan non kayu seperti gaharu, kemiri, damar dan rotan.

Pahatan kayu Suku Asmat

Festival Budaya Suku Asmat