Suku Bugis dominan menyebar di daratan Sulawesi, lebih tepatnya di Sulawesi Selatan. Kata Bugis berasal dari kata Tau Ugi yang berarti orang Bugis dalam Bahasa Bugis. Kata `Ugi` merujuk pada raja pertama Kerajaan Cina yang terdapat di Pammana – yang saat ini menjadi Kecamatan di Kabupaten Wajo – yaitu La Sittumpugi. Ketika rakyat La Sittumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka, mereka menjuluki dirinya To Ugi atau orang – orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi merupakan Ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu yang erupakan Ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang pernah membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio dengan menggunakan aksara Lontara. Pada perkembangannya, orang-orang Bugis kemudian berhasil mengembangkan kebudayaan mereka, tidakhanya bahasa dan aksaranya, mereka juga berhasil mengembangkan pemerintahan mereka sendiri menjadi wilayah yang memiliki kekuasaan yang besar. Pada masa lalu Orang Bugis sangat menyukai dataran yang subur dan dekat dengan wilayah laut untuk dijadikan wilayah mukim mereka, kebanyakan dari mereka hidup menjadi petani dan juga nelayan.